7

Search This Blog

Loading...

Sunday, November 13, 2016

Mengenal dekat rumah adat Baloy Tidoeng

Rumah adat terkenal dari masyarakat Kalimantan Utara disebut Rumah Baloy Tidoeng atau Baley Amiril Pengiran Djamaloel Qiram (Baloy Mayo Djamaloel Qiram). Rumah adat ini adalah hasil budaya masyarakat suku Tidung, Kalimantan Utara dan seperti suku lainnya, suku Tidung ini juga memiliki seni budaya ,kebudayaan dan model rumah adat sendiri.Rumah adat suku Tidung tak kalah indah dari rumah- rumah adat didaerah Kalimantan utara ,meski rumah adat ini masih menggunakan sejumlah tiang tinggi pada bagian bawahnya atau rumah panggung , bentuk bangunan rumah adat ini terlihat lebih elegan dan modis. Rumah adat ini adalah hasil pengembangan arsitektur rumah adat suku Dayak yang dinamakan Rumah Panjang atau rumah adat Lamin seperti yang dihuni oleh suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur

Rumah adat Baloy cukup sederhana yang sebagian besar bangunan Baloy terbuat dari kayu ulin dibangun menghadap ke utara,sedangkan pintu utama menghadap selatan.Rumah adat Baloy bangunannya memiliki seni arsitektur tinggi yang indah mempesona kemudian menariknya lagi ukiran-ukiran terdapat didinding bangunan rumah adat Baloy mempunyai kemiripan atau kesamaan dengan seni ukir suku Dayak

Suku Tidung umumnya mendiami wilayah pesisir pantai yang juga dikenal sebagai suku berbudaya bahari sehingga tak heran bila menelusuri pesisir pantai di Kalimantan Utara banyak ditemui rumah adat panggung Baloy dan perahu-perahu disekitar rumah Baloy sebagai alat transportasi

Rumah adat Baloy indah mempesona baik arsitekturnya sehingga rumah Baloy ini tidak hanya sebagai icon suku Tidung saja melainkan juga berfungsi sebagai tempat tinggal selanjutnya juga sebagai tempat khusus untuk menampilkan kesenian suku Tidung yang disebut tarian Jepen

Tari Jepen ,sebuah tarian khas suku Tidung bernuansa melayu dan tari Jepen umumnya ditarikan berpasang-pasangan yang menggambarkan kegembiraan sekaligus rasa syukur. Kostum yang dikenakan pun biasanya semarak dan kaya warna sebagai perlambang keceriaan. Penari pria biasanya bercelana panjang, berbaju Teluk Belangga (lengan panjang) dan bersarung.Sedangkan penari wanita bersarung dan berkebaya dengan model khas daerah masing-masing.

Baloy Adat Tidoeng. Terdiir empat ruang utama dalam rumah ini, yaitu Alad Kait tempat menerima masyarakat yang mempunyai masalah adat, Lamin Bantong tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat, Ulad Kemagod berfungsi sebagai ruang berdamai setelah selesainya perkara adat, dan Lamin Dalom sebagai tempat singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Seiring perkembangan zaman seni budaya suku tidung masih bertahan dan tidak punah .Kini rumah adat Baloy maupun seni budaya Tidung dapat dijumpai di kota Tarakan ,Kalimantan Timur tepatnya 1 kilometer dari bandara udara Djuwata yang letaknya didaerah pedalaman atau diluar kota Tarakan

Baloy Adat Tidoeng atau Baloy Mayo Djamaloel Qiram mengalami renovasi besar dengan arsitektur bangunan lebih modern tanpa menghilang kan nilai seni budaya suku Tidung . dibangun pada tanggal 4 April 2004 dan diresmikan pada tanggal 4 Agustus 2006 oleh Gubernur Kalimantan Timur Drs. Jurnalis Ngayoh, MM (pada saat itu Tarakan masih dalam wilayah Kaltim). Kabarnya, rumah adat yang berada di atas lahan seluas 2,5 ha ini dibangun dari dana pribadi Kepala Adat Besar Dayak Tidung, Mochtar Basry Idris.Lahan seluas 2,5 hektar tersebut berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan Suku Tidung sekaligus sebagai tempat tujuan wisata rekreasi

Komplek bangunan rumah adat Baloy Tidoeng yang terletak di kota Tarakan ini dibangun pula beberapa bangunan berukuran kecil khas suku Tidung berdiri berjajar sebagai tempat tinggal suku tidung .Selain itu dibangun pula rumah dengan dinding kuning berfungsi sebagai tempat berkomunikasi dengan leluhur suku Tidung kemudian dibelakang komplek rumah baloy Tidoeng juga dibangun Lubung Intamu sebagai tempat pertemuan masyarakat adat seperti pelantikan pemangku adat atau musyawarah

Mengenal lebih dekat Prabu Stri Suhita

Suhita atau Su king ta atau ratu sri Prabu Stri Suhita adalah penguasa wanita kedua Majapahit setelah ratu tribuana tunggadewi yang menguasai dari tahun 1427-1447 bergelar ratu ayu kencana wungu bersama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja.Jauh sebelum Prabu stri Suhita menjadi Ratu Majapahit kerajaan ini dikuasai Wirakramawardhana atau Bhra Hyang Wisesa menantu sekaligus keponakan Hayam Wuruk tahun 1389 sampai 12 tahun,namun tahun 1400 M Ia mengundurkan diri dan mengangkat Suhita bergelar Sri ratu Prabu Stri atau kencana wungu. Putri kedua Wirakramawardhana ,putra pertama bernama Bhra Tumapel .Prabu Stri Suhita diduga masih keturunan Raja Hayam wuruk dari Wirakramawardhana ,namun Wirabhumi tetap menganggap dirinya keturunan Hayam Wuruk berhak atas tahta raja Majapahit.Semenjak itu pertumpahan darah terjadi yang dikenal Perang Paregreg akibat Suhita diangkat menjadi ratu Majapahit yang dianggap bukan keturunan Raja Hayam Wuruk dan Wirabhumilah yang berhak menjadi raja Majapahit karena Ia keturunan Hayam Wuruk.Perang Paregreg berakhir tragis mengerikan kepala Wirabhumi dipotong oleh Raden Gajah membuat perang Paregreg terus berkepanjangan.Pasca perang Paregreg pemerintahan Prabu Stri Suhita diwarnai perang,pemberontakan yakni terbunuhnya raden gajah di Suhita balas dendam atas kematian kakeknya wirabhumi walau dalam Pararaton tidak disebutkan secara tegas .Disisi lain Suhita harus menghadapi wilayah Majapahit yang lemah akibat perang seperti kalimantan,palembang,brunei meski kerajaan Majapahit lemah ,namun Suhita mampu mengembalikan kekuatan Majapahit terbukti Suhita masih mampu mengembalikan kejayaan Majapahit dengan membangun sejumlah candi yakni candi sukuh,cetu dilereng gunung lawu,bangunan punden berundak di lereng gunung penanggungan termasuk sejumlah arca,patung,relief kemudian dimasa itu kegiatan keagamaan ajaran hindu berkembang pesat terlihat Suhita membangun sejumlah tempat pemujaan dengan bangunan punden berundak di sekitar lereng gunung Lawu termasuk batu untuk persajian,tugu batu,menhir dll.Selain membangun tempat pemujaan Suhita juga harus menghadapi pemberontakkan yang dipimpin Bhra Daha ,namun akhirnya pemberontakkan tersebut dapat diberantas oleh suhita kemudian pada masa pemerintahannya suhita mampu memperluas wilayah kerajaan Majapahit di pulau Jawa mengerahkan pasukan yang terlatih sehingga banyak wilayah menjadi bagian wilayah kerajaan Majapahit.Wilayah dipulau jaya ditaklukan diantaranya Blambangan ketika itu Kadipaten Blambangan dipimpin kebo marcuet ,namun ternya keberadaan Marcuet kian lama menjadi ancaman bagi Kencanawungu yang terus merong-rong wilayah kekuasaan Majapahit.membuat kencanawungu cemas. Semenjak itu Kencanawungu mengadakan sayembara bila mengalahkan marcuet akan dijadikan suami Kencana wungu.Sayembara itu dimenangkan joko Umbaran dengan mengalahkan Marcuet dengan senjata gada wesi kuning dibantu pemanjat kelapa bernama Dayun jaka umbaran dapat mengalahkan marcuet.Sayembara dimenangkan Jaka Umbaran kemudian Jaka dinobatkan sebagai adipati Blambangan bergelar Minak Jinggo,tetapi Kencanawungu menolak menikah dengan Jaka umbaran karena wajahnxa rusak ,kakinya pincang .Minakjinggo tetap sikeras melamar Kencanawungu akibat ditolak minalingo merebut kekuasaan majapahit sampai ke Probolinho dan menyerang Majapahit mendorong suhita atau kencanawungu kembali menggelar sanyembara barang siapa yang dapat membunuh minak jinggo kelak akan kujadikan suamiku.Pada sayembara itu datanglah damarwulan melawan minakjinggo dalam pertarungan itu damarwulan hampir menang kepala minakjinggo berhasil dipenggal olei damarwulan anehnya kepala minakjinggo kembali pada tempat semula terus berulang kali membuat Suhita melarikan diri ke Tanggumung,Minak jinggo memang cerdik dimanapun suhita Ia tetap mengetahui dan tetap seperti diduga ia menyiapkan emas berkarung-karung,namun suhita melarikan diri ke Majapahit hingga akhirnya minakjinggo berhasil dapat dibunuh dengan senjata gada wesi kuning

Kisah perjalanan hidup Prabu Stri Suhita

Bhre Daha alias dewi Suhita putri kedua Wikramawardhana atau Bhra hyang wisesa menantu ,keponakan raja hayam wuruk sekaligus raja majapahit berkuasa 12 tahun 1389-1400 M .Prabu sri suhita perjalanan hidupnya penuh misteri mulai silsilah keturunannya diduga keturunan raja Hayam wuruk kemudian masa kecil hingga dewasa tinggal dilingkungan istana kerajaan Majapahit hingga mampu membentuk pola pikir dan kepribadiannya membuat Ia tumbuh menjadi wanita yang mandiri,pemberani,cerdas nan bijaksana .Kisah perjalanan hidup prabu suhita yang menarik saat Ia diangkat menjadi raja majapahit saat itu usia dewi suhita masih belia 20 tahun,namun suatu hari sang raja Wikramawardhana mengundurkan diri pemerintahan majapahit menjadi seorang pendeta atau bhagawan.Pada perkembangan berikutnya suhita naik tahta tahun 1427 saat usianya menginjak 20 tahun dengan gelar prabu stri Suhita atau Ratu Ayu kencana wungu dan suhita adalah raja wanita kedua setelah ratu Tribhuwana Tunggadewi kemudian Ia memerintah Majapahit bersama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja atau aji Parameswara ,tetapi pengangkatan Suhita sebagai ratu Majapahit membawa petaka dan berujung terjadi perang saudara atau perang Paregreg 1404-1406 M .Tragedi perang Paregreg terjadi setelah meninggalnya Raja Hayam Wuruk ketika itu istana timur dikuasai Wikramawardhana ,namun Wikrama ini mengundurkan diri sebagai raja dan mengangkat putriya suhita sebagai ratu,tetapi pengangkatan suhita tidak disetujui bhre Wirabhumi dan menganggap dirinya yang berhak menjadi raja Majapahit .Semenjak itulah ikatan kekeluargaan antara istana barat dan timur tidak harmonis berujung pertengkaran hebat antara Wirabhumi dan Wikramawardhana terus berkembang menjadi perang saudara atau perang Paregreg.Akhir perang paregreg sungguh mengerikan raden gajah dari istana Barat memenggal kepala bhre Wirabhumi berdampak perpecahan keluarga istana majapahit.Kisah perjalanan hidup kencana wungu tak kalah menarik saat ratu ayu mengadakan perluasan wilayah majapahit dengan mengangkat Joko Umbaran menjadi adipati Blambangan bergelar Minak Jinggo,namun sang minak jinggo malah javh cinta pada sang ratu ayu ,namun ditolak oleh ratu ayu pasalnya wajah minak jinggo seperti raksasa . Sejak itu Minakjinggo memberontak terhadap majapahit suatu hari hampir saja dengan kesaktian senjata gada wesi kuning atau gada berisi kotoran penderita kholera Minak jinggo memperoleh kemenangan .Melihat sikap Minak jinggo yang sakti lantas ratu ayu menyenggarakan sanyembara barang siapa yang dapat memenangkan sayembara.Pada saat itu datanglah ksatria muda bernama raden Damarwulan memasuki dalam perangan tersebut Minakjinggo dapat dibunuh oleh Damarwulan dengan memenggal kepala Minakjinggo,namun Ia memang sakti mandraguna Minakjinggo hidup lagi kepalanya yang dipenggal oleh Damarwulan kembali ke tubuh secara berulang-ulang membuat Damar Wulan bersama ratu ayu kencana wungu melarikan diri untuk menghindari kejaran Minak Jinggo.Pada saat itulah Ratu ayu kencana wungu melarikan diri ke dusun Tanggumung bersama dayang-dayangnya dengan mendirikan tempat persembahan yang disekitarnya terdapat sungai tempat penyebrangan masyarakat setempat .Minakjinggo memang cerdik dimanapun ratu Ayu akhirnya keberadaan ratu diketahui oleh Minakjinggo segera bersama pasukannya Minakjinggo menyiapkan berkarung-karung emas untuk melamar ratu ayu dan Ratu Ayu mengetahui maksud kedatangan minakjinggo sehingga ratu ayu melarikan diri meninggal desa tersebut kembali ke Majapahit.Ketika Minakjinggo sampai didesa Kemuning Ia bertanya pada masyarakat setempat tentang putri Nandi bukan ratu ayu kencana wungu,namun masyarakat itu tidak mengerti nama putri Nandi yang diucapkan minak jinggo ,maka masyarakat tersebut menganggap ratu ayu kencana wungu adalah putri Nandi.Setelah mengetahui ratu telah meninggalkan tempat tersebut minak jinggo kecewa berat dan marah besar sebelum sampai desa Kemuning Ia melemparkan emas berkarung-karung ke daerah itu dan tempat pembuangan e

Potret kehidupan politik masa Prabu Stri Suhita

suhita atau sri ratu prabu shri suhita terkenal julukan Ratu ayu kencanawungu adalah penguasa wanita kedua setelah ratu tribuana tunggadewi yang memerintah bersama Parameswara tahun 1427-1447 M dan masa itu kehidupan politik kerajaan Majapahit sangat tidak stabil diwarnai pertumpahan darah,peperangan,pemberontakan,pembunuhan yang sadis nan brutal.Kehidupan politik diera pemerintahan Suhita yang penuh pertumpahan darah telah ada 20 tahun sebelum suhita diangkat menjadi raja Majapahit saat Wirakramawardhana atau Bhra wisesa berkuasa Majapahit selama 12 tahun kemudian pada bersamaan kekuasaan wilayah Majapahit sudah mulai lemah.Saat itulah Sang Wikramawardhana tahun 1400 M memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai raja Majapahit memilih menjadi Resi kemudian tahta kerajaan majapahit diserahkan pada sang putri kedua dewi Suhita.Keputusan tersebut sangat menyinggung perasaan Wirabhumi ,putra Raja Hayam Wuruk yang masih hidup merasa berhak atas tahta Majapahit karena alasan inilah tahun 1401 Bhre Wirabhumi dari istana timur menyerang Majapahit dari istana barat akibatnya Sang Wirakramawardhana menunda rencana menjadi resi dan turun langsung menghadapi Wirabhumi walau sempat kalah Ia bangkit lagi dari kekalahan dibantu Tumapel tahun 1406 menyerbu Istana timur Wirabhumi kalah melarikan diri menggunakan perahu ,namun dikejar bhra narapati dapat dibunuh dengan kepala wirabhumi dipenggal dan kepalanya dibawa istana Barat dan dicandikan girisa pura.Perang antara Wirakrama dan wirabhumi dinamakan perang Paregreg dan perang Paregreg membuat kehidupan politik Majapahit makin kacau ,bahkan wilayah kekuasaan Majapahit melepaskan diri tahun 1405 kalimantan dll,namun perang paregreg berdampak pada pasukan Cheng ho yang tidak mengerti apa-apa ikut jadi korban dampaknya wirakrama harus membayar denda akhirnya dibebaskan denda .Kehidupan politik era Suhita penuh pertumpahan darah dan balas dendam pasca perang paregreg Suhita naik tahta tahun 1427 M dan masa inilah Suhita melakukan balas dendam dengan menghukum mati raden gajah disamping memhukum mati Raden Gajah kondisi politik makin tidak menentu wilayah Majapahit makin berkurang melepaskan diri dari majapahit disisi lain Suhita juga harus menghadapi pemberontakkan yang dipimpin Bhre Daha ,meski dapat ditumpas.Suhita seorang pemimpin wanita nan cerdas meski kondisi wilayah Majapahit penuh konflik Suhita masih mampu menaklukan wilayah dipulau jawa dan daerah yang ditaklukan menjadi bagian wilayah kerajaan Majapahit.kadang daerah yang ditaklukan justru merongrong wilayah Majapahit sebagaimana dilakukan Jaka umbaran atau minak jinggo ,adipati Blambangan dengan menaklukan daerah purbolinggo menjadi wilayah Blambangan.Kehidupan politik pada masa pemerintahan Suhita diwarnai intrik-intrik politik yang diciptakan sendiri oleh Prabu Stri Suhitau Kencanawungu tak lain untuk mempertahan legimitasi politik di Majapahit warisan tahta ayahnya dan bagaimanapun juga tetap dipertahankan meski harus berhadapan dengan keluarganya membuat kehidupan politik Majapahit makin kacau.Intrik-intrik politik yang berkembang dimasa Suhita penuh misteri betapa tidak Suhita selalu mengadakan sayembara bernuansa politik dengan hadiah menjadi suami Suhita padahal sejarah mencatat Suami resmi Suhita adalah Parameswara dan entah apa menyebabkan Suhita bersikap demikian yang jelas Suhita sukses menciptakan intrik politik dengan sayembaranya . Sang pemenang sayembara bernuansa politik yang digelar Suhita benar-benar mendapat hadiah yakni suami Suhita orang beruntung menjadi suami Suhita lewat sayembara adalah Damarwulan.Menariknya intrik politik ala Suhita mampu membuat bahagia terlihat Suhita menikah dengan Damarwulan menurut cerita jawa mereka berdua kemudian memimpin majapahit dan dikaruniai seorang putra bernama Brawijaya penerus tahta selanjunya.Disisi lain intrik-intrik yang diciptakan Suhita membuat Hyang Parameswara tidak mau dan tidak kuat tinggal di Majapahit diberitakan Ia pergi ke Palembang lalu memilih

Kisah perjalanan hidup Damarwulan

Damarwulan,tokoh yang melegenda ditanah jawa begitu populer ditengah masyarakat jawa banyak versi yang menceritakan kisah hidup sang Damarwulan dalam berbagai versi baik sendra tari maupun cerita tertulis seperti serat damarwulan ditulis akhir maa keruntuhan majapahit,serat kanda dll. Damarwulan adalah seorang pemuda tampan yang masa kecilnya dihabiskan belajar beragam ilmu pengetahun termasuk ilmu kedigdayaan jaya kawijayan di pesanggrahan Madakaripura dibawah pimpinan Resi Tunggul Manik sekaligus ayah angkatnya .Perjalanan hidup Damarwulan yang menarik saat berkelana menuju tlatah Blambangan dengan tujuan menyempurnakan ilmu yang dimilikinya atas saran resi Tunggul Manik,meski berat meninggal pesanggrahan madakaripura Damarwulan terus melanjutkan perjalanan menuju kadipaten lamajang sebelah barat Blambangan .Suatu hari Damarwulan bertemu Patih loh gender bangsawan Majapahit ketika itu Damarwulan terkenal pemuda pandai membuat loh bener mengangkat Damarwulan menjadi pengurus kuda pada keluarga Loh bener,namun kehadiran dibenci layang seto dan kumiter justru putri anjasmoro jatuh cinta pada Damarwulan pada pandangan pertama dan akhirnya mereka menikah.Kisah Damarwulan bertemu ratu ayu Kencanawungu saat Kencanwungu menggelar sayembara,namun sebelum bertarung dengan minakjinggo Kencanawungu telah mengetahui Damarwulan menantu Loh bener yang dipandang mampu mengalah Minakjinggo. Suatu ketika Damarwulan datang ke Blambang menantang Minakjinho untuk perang tanding ,maka terjadilah pertempuran yang sengit antara minakjinggo-damarwulao.Saat melawan Minakjinggo hampir saja Damarwulan menang perang karena ketika itu Damarwulan berhasil memenggal kepala Minakjinggo,tetapi Minakjinggo memang sakti mandraguna kepala minakjinggo menyatu kembali dengan tubuhnya terus berulang-sehingga minakjinggo hidup lagi dan Minakjinggo tidak dapat dibunuh.Melihat kejadian itu Damarwulan mengajak Kencanawumgu melarikan diri untuk menghindari kejaran minakjinggo saat tiba suatu desa tiba-tiba tempat itu gelap gulita hingga desa itu diberi nama desa Pituruh.Pertempuran kembali terjadi antara Damarwulan-minakjinggo,namun Damarwulan pingsan terluka kakinya terkena pusaka Gada wesi kuning dan Damarwulan pun masuk penjara kemudian didalam penjara Damarwulan ditolong kedua isteri minajjinggo bernama Dewi wahita dan dewi puyengan justru kehadiran Damarwulan membuat kedua istri minakjinggo jatuh hati pada Damarwulan. .Berkat kedekatan Damarwulan dengan kedua istri Minalinggo mampu membuka rahasia kesaktian minakjinggo terletak pada senjata gada wesi kuning dan atas bantuan Sahita senjata itu dapat dirampas dari tangan Minak Jinggo.Setelah senjata gada wesi kuning berada ditangan Damarwulan kembali pertempuran terjadi Damarwulan jatuh tersungkur ,namun senjata gada wesi tangannya membuat Damarwulan bangkit langsung menghatam kepala Minak jinggo dengan gada wesi kuning dan seketika itu Minakjinggo tewas tangan Damarwulan.Dendam Layang telo-lumiter terhadap Damarwulan masih dipendam ketika Minak jinggo tewas ditangan Damarwulan keduanya menghadang ditengah jalan saat Damarwulan pulang ke ke istana Blambangan berusaha merebut kepala minak jinggo agar mereka dianggp pemenang sayembara terjadilah pertempuran hebat yang dimenangkan kakak adik layang seto-kumiter hingga Damarwulan masu jurang.Umur Damarwulan masih panjang karena ditolong arwah ayah kandung Damarwulan membuat Damarwulan bangkit lagi peristiwa juga membuat Kencanawungu tidak percaya maka diadakan pertempuran lagi antara Damarwulan dengan Layang seto kumiter yang dimenangkan oleh Damarwulan.Sejak itu Damarwulan mendapat istimewa dari kerajaan Majapahit yakni menikah dengan kencanawungu kemudian Damarwulan diangkat menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Mertawijaya ,sementara sang istri Anjasmara tetap merelakan Damarwulan menikahi Kencanawungu mereka hidup bahagia dalam perkawinannya dikaruniai seorang putra bernama Brawijaya yang kelak menjadi raja terakiir kerajaan Majapahit

Saturday, November 12, 2016

Suku Bulungan

Suku Bulungan yang dipimpin oleh seorang kepala Suku dengan gelar Ksatria Wira.Pada masa itu kepala suku bulungan pertama kali dipimpin oleh Datu Mencang. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur.

Semenjak Datu mencang memimpin suku bulungan bergelar Ksatria Wira (1555– 1595) dan dimasa Wira Datu Mencang ajaran islam berkembang pesat di daerah ini yang pusat pemerintahannya di Busang Arau. Datu Mencang kemudian menikahkan anaknya yang bernama Kenawai Lumu dengan bangsawan Kesultanan Sulu, Philipina Selatan, dan akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada menantunya Singa Laut (1595– 1631).

Semenjak Kesultanan Bulungan dipimpin Singa laut legimitasi kekuasaan kesultanan di Bulungan ini berlangsung secara turun temurun. Berturut-turut kemudian diperintah oleh Wira Kelana . Kemudian pucuk pimpinan dilanjutkan Wira Digedung , yang semasa kepemimpinannya berhasil memindahkan pusat pemerintahan dari Busang Arau ke Limbu (Long Baju). Masa Kesultanan Bulungan Setelah itu pucuk pemerintahan kemudian diserahkan kepada Wira Amir , pada masa inilah pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Limbu (Long Baju) ke Salim Batu di era Limbu ini sistem pemerintahan mengalami kemajuan luarbias dari sistem pemerintahan suku menjadi kesultanan.

Sultan pertama Kesultanan Bulungan adalah Wira Amir yang bergelar Sultan Amiril Mukminin (1731– 1777). dipimpin oleh Wira atau sultan selanjutnya sang Wira memindahkan ibukota Kesultanan Bulungan ke Tanjung Palas.Pada masa itu sultan 1 mendirikan ibukota serta keraton Kesultanan Bulungan nan indah di Tanjung Palas.

Pada masa pemerintahan berikutnya Sultan Bulungan digantikan oleh Aji Ali yang dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Sultan Alimuddin (1777– 1817) , di masa inilah pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke tanjung palas, sedangkan salim batu sebagai lahan persawahan. Tahun 1817 , pemerintahan Aji Ali digantikan oleh Aji Muhammad yang bergelar Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin , yang memerintah hingga Tahun 1861 . Setelah itu merasa dirinya sudah tua sultan mengundurkan diri dan digantikan puteranya yang bernama si Kiding bergelar Sultan Muhammad Djalaluddin (1861– 1866) . Mangkatnya Sultan Muhammad Djalaluddin, pemerintahan kesultanan kemudian diambil alih oleh Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin, ayah Sultan Muhammad Djalaluddin yang tidak ingin merelakan pemerintahannya jatuh ke tangan Datuk Alam yang merupakan ulama yang banyak pengikut. Datuk Alam adalah putera Pangeran Maulana, tapi dari lain ibu. Meski begitu pada akhirnya Datuk Alam berhasil menjadi sultan dengan gelar Khalifatul Alam Muhammad Adil

Semenjak Bulungan menjadi suku Bulungan dan Kesultanan Bulungan istana maupun ibukota atau pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan seringkali berpindah-pindah tempat ke lokasi satu ke lokasi lainnya seiring pergantian pemimpin baru dilingkungan Kesultanan Bulungan.

Sementara itu ,istana maupun ibukota pemerintahan Kesultanan Bulungan , meski seringkali berpindah-pindah lokasi tidak menimbulkan gejolak politik yang berarti kemudian perpindahan istana maupun lokasi ibukota pemerintahan sering dilakukan oleh para sultan Bulungan diduga lokasinya saat itu dipandang kurang strategis .lokasi Istana Kesultanan Bulungan maupun pusat ibukota pemerintahan Kesultanan Bulungan akhirnya memilih Tanjung Palas sebagai pusat ibukota pemerintahan dengan membangun istana Kesultanan Bulungan Istana Kesultanan Bulungan pada tahun 1964 mengalami kehancuran akibat serangan TNI dan Pki Letaknya di tepi Sungai Kayan di Tanjung Palas.Pasca tragedi Bultiken pada tahun 1999, telah dibangun replika istana tersebut dan difungsikan sebagai Museum Kesultanan Bulungan. Di belakang bangunan istana terdapat masjid tua dan makam Datuk Djalaludin beserta keluarganya.

Pasca tragedi Bultiken harta kekayaan yang dimiliki istana Kesultanan Bulungan hilang dan hancur tanp

Masa kejayaan Kesultanan Bulungan 1771-1937

Kesultanan Bulungan adalah salah satu kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Utara tepatnya dipesisir Sungai Kayan kemudian Kesultanan Bulungan berdiri tahun 1731 didirikan oleh wira Amir bergelar Amiril Mukmin berkuasa sampai tahun 1777 dan raja akhir kerajbn Bulungan Raja M Djalaluddin berkuasa tahun 1931-1958 p>

Sejarah Kesultanan Bulungan dimulai pada 1771 dengan raja pertama Sultan Amril Mukminin yang berasal dari Sulawesi. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara; Sabah, Malaysia; hingga Sulu, Filipina, yang berpusat di pesisir Sungai Kayan.Kesultanan Bulungan dipimpin 13 generasi raja-raja Kesultanan Bulungan kemudian dimasa itu ke 13 raja-raja Kesultanan Bulungan mencapai masa kejayaan betapa tidak saat itu memerintah dengan bergelimpangan kekayaan yang didapat dari hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan

Masa kejayaan Kesultanan Bulungan sebagaimana dilansir Regional Liputan6.com tertanggal 15 Febuary 2016 berlangsung berabad-abad sejak 1771 hingga 1938. Kesultanan Bulungan ketika mencapai kejayaan tanpa menarik upeti dari penduduk di wilayahnya. Kesultanan Bulungan bahkan memiliki ratusan pasukan terlatih bersenjatakan senapan hingga meriam yang digunakan mengusir perompak yang marak di perbatasan.

Pada masa kejayaan wilayah Kesultanan Bulungan dikuasai kolonial Belanda ternyata tak mampu menggoyahkan eksistensi Kesultanan Bulungan saat itu. Keberadaan tentara penjajah Belanda di wilayahnya justru memperkuat pertahanan dan keamanan Kesultanan Bulungan melawan kerajaan lain di sekitarnya.Menariknya keberadaan Belanda di wilayahnya bagi Kesultanan Bulungan memperkuat pertahanan,keamanan wilayah Bulungan ,bahkan keduanya membuat perjanjian keamanan yang disepakati antara Kesultanan Bulungan dengan Belanda yakni Belanda berhak mengeksploitasi sumber minyak dan gas di Tarakan yang saat itu dalam kekuasaan Kesultanan Bulungan. Hasil penjualan sumber energi itu kemudian dibagi dengan Kesultanan Bulungan. Pendapatan itu selanjutnya digunakan untuk membangun jalannya pemerintahan, termasuk pendidikan para keluarga raja

Pada perkembangan selanjutnya kedua pihak Kesultanan Bulungan dan Belanda ada upaya berkerjasama melawan Malaysia .namun kerjasama ini malah menjadi cikal bakal kehancuran Kesultanan Bulungan, pada tanggal 3 Juli 1964 silam karena dianggap berafiliasi dengan negeri jiran. Petinggi tentara di Kalimantan menuduh seluruh keluarga Kesultanan Bulungan membantu berdirinya Malaysia yang saat itu mendapat dukungan dari Inggris. Tuduhan itu berakhir tragis. Sebagian besar anggota kerajaan dieksekusi mati tanpa alasan yang jelas.

PasukanTentara Brawijaya 517 tiba-tiba mengepung istana tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal Suharyo disertai pembantaian,pembunuhan yang dilakukan secara keji dan peristiwa ini setidaknya 50 keluarga dieksekusi di Tarakan karena dianggap membantu Malaysia, termasuk keluarga raja tertua Raja Muda Tentara bersama rakyat kemudian menjarah seluruh harta benda Kesultanan Bulungan berupa ratusan benda-benda antik buatan Tiongkok dan Eropa. Istana kerajaan yang berusia ratusan tahun di lahan seluas 6 hektare juga dibakar tanpa meninggalkan bekas sedikit pun Bangunan sekarang ini dibangun Pemda Bulungan sesuai bentuk istana kesultanan yang dulu,

Datuk Abdul Hamid menjadi salah satu keluarga Kesultanan Bulungan yang tersisa. Sendirian, dia berjuang mempertahankan warisan sejarah Kesultanan Bulungan yang nilai kebesarannya sebenarnya tidak kalah jika disandingkan kerajaan lain di nusantara. Sudah berulang kali Datuk Abdul Hamid menyurati para pemimpin pemerintah sejak zaman Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, tapi tak ada tanggapan. Keturunan raja terakhir itu hanya memohon agar pemerintah menjaga tapak sejarah Kesultanan Bulungan seperti halnya Kerajaam Mataram yang kini beralih jadi Yogyakarta. Ia berharap agar pemerintah membangun kembali istana Kes

Seni budaya suku Bulungan

Bulungan dikenal sebagai wilayah Kabupaten yang dulu adalah bekas wilayah Kesultanan Bulungan dan diwilayah ini kaya akan seni budaya dilihat dari beragam bentuk kesenian diantaranya:seni tari yang mengekspresikan dan menunjukkan ketinggian budaya Kesultanan dan Masyarakat Bulungan tempo dulu tak heran seni tari tradisional Bulungan memiliki banyak kesenian diantaranya : Tari Istana dan Tari Rakyat. Tari Istana terdiri dari Jugit Paman dan Jugit Demaring , keduanya sebuah tari istana yang sakral dan memiliki perbedaan dari segi alat musik dan syair lagu, warna baju dan kain yang digunakan, gerak tangan saat memegang kipas dan selendang

Pada masa lampau tarian Jungkit Paman demikian sakral sampai-sampai tarian ini hanya boleh disuguhkan kepada Sultan dan di tarikan didalam kraton sedangkan tari Jugit Demaring dapat disaksikan oleh rakyat biasa dan boleh disuguhkan diluar kraton. Selanjutnya tari Blunde’ atau Blundik, kemudian tari Mance atau Bemance’ dan tari Bagun. Blunde’ atau blundik diduga memiliki persamaan dengan tari enggang dari suku Dayak menariknya cirikhas tarian ini memakai ikat kepala, baju kebaya dan tapih (kain) yang digunakan hingga menutup lutut.

Tari Mance atau Bemance disebut juga tari silat yang geraknya mirip bentuk silat sering dipentaskan sebagai bentuk hiburan, dimasa lampau Bemance juga menjadi kegemaran sebagaian besar pemuda bulungan. Tari Bangun, tari ini sedikit magis dan sakral dan tujuannya untuk memanggil kekuatan alam sebagai media penyembuhan, biasanya diperuntukan untuk mengobati orang- orang sakit dimasa lampau, Kini tarian Bangun bagian dari seni tari murni kemudianTari Bangun juga memiliki setidaknya tiga bantuk yaitu: Ngala Bedua’ (dimaksud untuk mengambil semangat si sakit), Betujul (memberi makan sesuatu yang gaib) dan yang terakhir Persembahan.

tari yang populer dikalangan masyarakat Bulungan yaitu tari Zapin atau Jepen dalam dialek masyarakat Bulungan, tari Jepen Bulungan lahir dari proses yang panjang dari interaksi agama Islam dengan penduduk suku Bulungan. Jepan yang dimiliki masyarakat Bulungan murni kreasi para seniman sekaligus para pendawah dimasa lampau, Jepen ini menjadi sangat special karena sering muncul atau dimainkan dalam setiap hajat masyarakat khususnya pesta rakyat atau acara perkawinan, bila tak ada Jepen rasa tak lengkaplah acara tersebut, begitulah istilah orang Bulungan menyebutnya. Jepen Bulungan memiliki empat variasi bentuk yaitu: Jepen Serimpot, Jepen Surung Dayung, Jepan Ketemu dan yang terakhir Jepan Sirung (Sorong).

Pesta budaya Birau bukan sekedar upacara formal atau hura-hura namun salah satu bentuk upaya untuk melestarikan budaya daerah setempat. Pada acara Birau berbagai seni budaya Bulungan yang secara umum terbagi tiga yakni budaya keraton (Kesultanan Bulungan), budaya pesisir dan budaya pedalaman (Dayak) terus dihidupkan. “Birau juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya Bulungan baik tingkat nasional maupun mancanegara melalui pengembangan kepariwisataan, apalagi 2008 bersamaan dengan Tahun Kunjungan Wisata

Pada masa mendatang pemerintah setempat berharap Birau sebagai kalender wisata tahunan, tetapi terkendala biaya menggelar acara tersebut cukup besar, yakni mencapai miliaran rupiah sehingga untuk saat ini dilaksanakan hanya dua tahun sekali. Berbagai kegiatan selama Birau secara umum terbagi tiga, yakni kegiatan olahraga (modern dan tradisional), seni budaya dan upacara puncak peringatan yang akan melibatkan ribuan massa. Tujuan Birau selain untuk melestarikan dan menggali potensi adat dan seni budaya asli Kabupaten Bulungan, juga bertujuan memberikan hiburan kepada masyarakat dan penyampaian informasi hasil pembangunan daerah, serta sebagai media promosi pariwisata daerah dan upaya menarik wisatawan. Birau dimasa kesultanan Bulungan dirayakan saat anak sultan khitanan atau melangsungkan penikahan, saat itu sultan menggelar pesta rakyat dengan menyiapkan makanan dan minuman gratis kepada selur

Kesultanan Bulungan

Kesultanan Bulungan adalah salah satu kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Utara tepatnya dipesisir Sungai Kayan kemudian Kesultanan Bulungan berdiri tahun 1731 didirikan oleh wira Amir bergelar Amiril Mukmin berkuasa sampai tahun 1777 dan raja akhir kerajbn Bulungan Raja M Djalaluddin berkuasa tahun 1931-1958

Sejarah Kesultanan Bulungan dimulai pada 1771 dengan raja pertama Sultan Amril Mukminin yang berasal dari Sulawesi. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara; Sabah, Malaysia; hingga Sulu, Filipina, yang berpusat di pesisir Sungai Kayan.Kesultanan Bulungan dipimpin 13 generasi raja-raja Kesultanan Bulungan kemudian dimasa itu ke 13 raja-raja Kesultanan Bulungan mencapai masa kejayaan betapa tidak saat itu memerintah dengan bergelimpangan kekayaan yang didapat dari hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan

Masa kejayaan Kesultanan Bulungan sebagaimana dilansir Regional Liputan6.com tertanggal 15 Febuary 2016 berlangsung berabad-abad sejak 1771 hingga 1938. Kesultanan Bulungan ketika mencapai kejayaan tanpa menarik upeti dari penduduk di wilayahnya. Kesultanan Bulungan bahkan memiliki ratusan pasukan terlatih bersenjatakan senapan hingga meriam yang digunakan mengusir perompak yang marak di perbatasan.

Pada masa kejayaan wilayah Kesultanan Bulungan dikuasai kolonial Belanda ternyata tak mampu menggoyahkan eksistensi Kesultanan Bulungan saat itu. Keberadaan tentara penjajah Belanda di wilayahnya justru memperkuat pertahanan dan keamanan Kesultanan Bulungan melawan kerajaan lain di sekitarnya.Menariknya keberadaan Belanda di wilayahnya bagi Kesultanan Bulungan memperkuat pertahanan,keamanan wilayah Bulungan ,bahkan keduanya membuat perjanjian keamanan yang disepakati antara Kesultanan Bulungan dengan Belanda yakni Belanda berhak mengeksploitasi sumber minyak dan gas di Tarakan yang saat itu dalam kekuasaan Kesultanan Bulungan. Hasil penjualan sumber energi itu kemudian dibagi dengan Kesultanan Bulungan. Pendapatan itu selanjutnya digunakan untuk membangun jalannya pemerintahan, termasuk pendidikan para keluarga raja

Pada perkembangan selanjutnya kedua pihak Kesultanan Bulungan dan Belanda ada upaya berkerjasama melawan Malaysia .namun kerjasama ini malah menjadi cikal bakal kehancuran Kesultanan Bulungan, pada tanggal 3 Juli 1964 silam karena dianggap berafiliasi dengan negeri jiran. Petinggi tentara di Kalimantan menuduh seluruh keluarga Kesultanan Bulungan membantu berdirinya Malaysia yang saat itu mendapat dukungan dari Inggris. Tuduhan itu berakhir tragis. Sebagian besar anggota kerajaan dieksekusi mati tanpa alasan yang jelas.

PasukanTentara Brawijaya 517 tiba-tiba mengepung istana tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal Suharyo disertai pembantaian,pembunuhan yang dilakukan secara keji dan peristiwa ini setidaknya 50 keluarga dieksekusi di Tarakan karena dianggap membantu Malaysia, termasuk keluarga raja tertua Raja Muda Tentara bersama rakyat kemudian menjarah seluruh harta benda Kesultanan Bulungan berupa ratusan benda-benda antik buatan Tiongkok dan Eropa. Istana kerajaan yang berusia ratusan tahun di lahan seluas 6 hektare juga dibakar tanpa meninggalkan bekas sedikit pun Bangunan sekarang ini dibangun Pemda Bulungan sesuai bentuk istana kesultanan yang dulu,

Datuk Abdul Hamid menjadi salah satu keluarga Kesultanan Bulungan yang tersisa. Sendirian, dia berjuang mempertahankan warisan sejarah Kesultanan Bulungan yang nilai kebesarannya sebenarnya tidak kalah jika disandingkan kerajaan lain di nusantara. Sudah berulang kali Datuk Abdul Hamid menyurati para pemimpin pemerintah sejak zaman Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, tapi tak ada tanggapan. Keturunan raja terakhir itu hanya memohon agar pemerintah menjaga tapak sejarah Kesultanan Bulungan seperti halnya Kerajaam Mataram yang kini beralih jadi Yogyakarta. Ia berharap agar pemerintah membangun kembali istana Kes

Tragedi Bultiken

Jauh hari peristiwa tragedi Bultiken terjadi tepatnya setahun sebelum TNI membumi hanguskan keraton atau tepatnya Jumat, 2 Juli 1963, saat peresmian kantor Polisi Sektor Tanjung Selor, sudah beredar rumor yang menyebutkan, Kesultanan B7ulungan dibantu masyarakat Tidung dan Kenyah akan memberontak. Kesultanan yang waktu itu digambarkan sangat berpengaruh karena kemakmurannya diisukan ingin bergabung dengan federasi Malaysia. Bulungan Tidung dan Kenyah inilah yang belakangan oleh masyarakat Bulungan disebut Bultiken, yaitu daerah yang saat ini memiliki batas tanah daratan dengan Malaysia.

Pada tahun 1963 hubungan bilateral antara pemerintah RI dengan dengan Malaysia diisukan telah mulai memanas dan entah apa yang menyebabkan itu terjadi yang jelas pemerintah RI pun juga tak segan menyatakan bermusuhan dengan negara Malaysia membuat pasukan TNI mudah bergejolak Ditambah situasi politik dalam negeri di mana komunis memasuki semua sendi pemerintahan dan TNI

Arus gelombang maupun dinamika politik ketika itu begitu kuat sehingga mudah intervensi pihak asing dan mendorong munculnya beragam provokasi mau isu politik kemudian terjadilah peristiwa tragis tepat tanggal 24 Juli 1964 membuat kehancuran istana Kesultanan Bulungan rata dengan tanah tanpa bekas .Pada peristiwa tersebut tercatat 54 bangsawan Kerajaan Bulungan terbunuh dengan cap sebagai pemberontak lewat gerakan subversif Bultiken.

Versi lain menyebutkan peristiwa Tragedi Bultiken adalah peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh tentara Indonesia yang dipimpin oleh Letnan B.Simatupang, atas perintah Pangdam IX Mulawarman saat itu yaitu Brigadir Jendral Suhario terhadap para petinggi dan keluarga kerajaan Kesultanan Bulungan, serta aksi pembakaran istana Bulungan dan penjarahan serta perampasan harta benda milik Kesultanan Bulungan yang juga dilakukan oleh para tentara tersebut. Tragedi ini bermula pada subuh dinihari, Jumat, 3 Juli 1964, ketika sepasukan tentara dari satuan tempur Brawijaya 517 tiba-tiba mengepung istana Kesultanan Bulungan, dan berakhir setelah istana Bulungan yang bertingkat dua habis dibakar oleh para tentara tersebut selama dua hari dua malam hingga rata dengan tanah pada hari Jumat, 24 Juli 1964.

Selama terjadi pengepungan tersebut satu per satu bangsawan Bulungan diculik, ditangkap dan dibunuh. Puncaknya adalah ketika pada Sabtu malam, 18 Juli 1964, istana Raja Muda dibakar, dan Raja Muda Datu Mukemat diculik dan dieksekusi dilaut antara Tarakan dan Pulau Bunyu, dengan cara dia diikat dan diberi beban batu pemberat, selanjutnya ditembak dan dibuang kelaut.

Gejolak politik saat itu demikian kuat dan tragedi memilukan nan tragis yang disebutkan peristiwa tragedi subversif Bultiken sesungguhnya tidak pernah ada, peristiwa itu sebagaimana dikatakan Datu Abdul hamid sebagai Pemangku Sultan Bulungan dalam Seminar Mengungkap dan Mengangkat Kerajaan Bulungan yang diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN) di GOR Bulungan, Jakarta, Rabu (4/4) sebagaimana dilansir Rmol.com menyebutkan peristiwa tersebut lebih bernuansakan situasi politik ketika Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia . Sejak awal kerajaan Bulungan sebagaimana dikatakan Datu Hamid pendukung dari Republik Indonesia. Dukungan itu dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pendanaan dari kekayaan alam dan dukungan perjuangan,namun desas-desus ,isu hingga polemik terus terjadi yang berujung tudingan terhadap Kerajaan Bulungan yang dipandang memberontak dan berpihak pada Malaysia sampai akhirnya dilakukan penyerangan terhadap Kerajaan Bulungan.

Tak ada catatan yang pasti mengulas,membahas tentang peristiwa Bultiken yang jelas hingga puncak peristiwa, Jumat, 24 Juli 1964 tela terjadi pembantaian,pembunuhan, serta pembakaran Keraton Kesultanan Bulungan.

Semenjak tragedi Bultiken terjadi banyak tersebar isu hingga desas-desus menyebutkan pembantaian itu didalangi PKI. Versi lain juga menyebutkan pembantaian,pembunuhan,pemb